Rempah akan dapat selalu menjadi sebuah kata misterius, imajiner, provokatif dalam long term recognition para generasi kakek nenek kita dan usia pemuda 40an saat ini, menjadi suatu kata tak terpisahkan dari penjajahan bangsa Indonesia, padahal rempah sejatinya tiada lain sebagai tumbuhan saja !.

Tenanglah jiwa patriotik sebab proklamasi telah lama diberikan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa kepada bangsa ini, merdeka.

Tiada kata terlambat, untuk memahami bahwa manusia mempunyai pola berulang yang dasar, yaitu makan, makanan yang enak, bukan saja ketika zaman itu tiada yang lain produksi anak negeri yang bisa dibawa ke negerinya tapi memenuhi pola makan itulah rempah-rempah dibawa ke pelabuhan, dengan tangisan petani dibelakangnya.

Ya cukuplah, dan kita harus bersyukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya tempahan-rempahan tersebut masih bisa kita lihat tumbuh, dapat dijual petani, dan memberi pendapatan bagi daerah dan negara ini.

Dan 10 sd 12 Desember stakeholders perkebunan merayakan Hari Perkebunan ke 62 dengan tema Mengembalikan Kejayaan Rmpah Nasional, kami Dinas Pekebunan Provinsi Sulawesi Selatan mengucapkan Selamat.

Sebagai sebuah harapan yang layak diperjuangkan, kiranya dukungan database ketahanan dan pesaing asean betul-betul perlu diperhatikan, apalagi harapan petani yang akan bersedih ketika harga jualnya dirasakan tidak adil, terpaksa dijual, alih fungsi lahan. Dan karena itu inisiasi tersebut benar-benar terukur, bukan saja mempertimbangkan tingginya angka produksi, tingginya nilai ekspor komoditi, tetapi harus menciptakan sistem kerempahan yang dinamis.

Saat ini di Sulawesi Selatan petani menanam beberapa tanaman rempah, dengan kepemilikan lahan antara dibawah 1 sd 0,5 Ha/KK dengan produktivitas dibawah potensialnya, dan beragam antara daerah satu dengan lainnya, bahkan sekitar 10 sd 30 % berada dalam kategori Tanaman Tua/Tanaman Rusak (seperti cengkeh) artinya tanaman ini sangat sulit atau tidak dapat lagi menghasilkan produksi seperti biasanya.

Benih yang baik, bantuan sukarelawan masyarakat terampil disekitar petani, jaminan harga pemerintah, dan perwilayahan komoditas akan cukup mengembalikan kejayaan rempah nasional.

Sekali lagi Selamat Hari Perkebunan ke 62, Jayalah Perkebunan Indonesia.

Admin